Sebab berbagi begitu indah..

PORK FESTIVAL (Toleran adalah tidak toleran)


Sesatir-satirnya George Orwel, penulis raja satir asal inggris yang terkenal seantero jagad, tidak bisa menandingi Mahbub Djunaidi, mbahnya penulis satir asli Betawi.

Salah satu karya George yang diterjemahkan oleh Mahbub adalah “Animal Farm.” Dari judulnya saja kurang nendang. Makanya Mahbub menerjemahkannya dengan judul “ Binatangisme. “

Kalau bukan Mahbub yang menerjemahkan buku itu, bisa dipastikan kurang nendang. Bahkan boleh dibilang, lebih nendang dari buku aslinya. Kemampuan almarhum Mahbub Djunaidi menerjemahkan buku itu dengan sangat baik bukan hanya karena bahasa Indonesia, tapi darah Betawi Mahbub menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa satir yang lugas, dan nendang tanpa menyakiti.

Kalau kita mendengar di Semarang  ada acara Pork Festival, tidak ada hubungannya dengan cerita buku  “ Binatangisme.” Walaupun buku itu memang menceritakan upaya makar para binatang peliharaan tuan Jones pemilik peternakan Manor terhadap kepemimpinan para Babi setelah matinya Major, Babi yang telah berkuasa sepanjang hidupnya di peternakan itu. Dan para Babi yang tidak ingin kekuasaannya lepas , bekerja sama dengan beberapa bintang lain membuat segala cara untuk mempertahankan kekuasaannya

Judul acara para penggemar daging babi itu semula Festival Kuliner Olahan Daging Babi, Pork Festival. Terjemahan bebasnya, “Pesta Para Pemakan Daging Babi. “ Festival  semacam itu di tengah pertarungan antara yang mengaku kaum toleran dengan yang dituduh kaum intoleran memang menjadi sangat sensi. Judul acaranya pun seolah-olah menantang kaum yang mengharamkan daging babi.

Beberapa ormas melakukan protes, judulnya diganti menjadi “ Festival Kuliner Imlek “ Kok malah tambah keren dan hilang kekhususannya, padahal kulinernya sama, makanan olahan dari daging babi.  Kalau saja ormas  itu mau menelaah, sebenarnya judul lama lebih “merugikan”  pihak penyelenggara.

Umat Islam baik yang menjalan kan rukun islam maupun yang setengah-setengah atau bahkan hanya setahun sekali pas puasa dan idul fitri saja semua pasti menolak jika disodorkan daging babi. Daging babi bukan hanya haram, tapi sudah dianggap benda menjijikan. Maka jika ada penyelenggaran pesta para pemakan daging babi, maka bisa dipastikan umat Islam akan memandangnya sebagai hal yang menjijikan. Tapi kalau judulnya malah minta diganti dengan yang lebih samar-samar, malah bisa disikapi sebaliknya. Sama dengan judul “animal farm” yang diterjemahkan menjadi “Binatangisme”

Acaranya sendiri sebenarnya sudah satir. Judul acara yang semula bersifat khusus, lengkap dengan gambar kepala babi memang akan menimbulkan kesan mau nyombong, tapi sekaligus juga membuat masyarakat Muslim akan menjaga jarak. Tapi dengan judul baru, jarak itu semakin samar.  Malah bukan  mustahil aka ada yang kesasar.

Jika misalnya judul awalnya adalah Festival Kuliner Imlek, lalu ada yang mengatakan itu adalah pestanya para pemakan daging babi ( Pork Festival ) pasti akan kena tuduh ujaran kebencian, minimal intoleran.  Tapi ini kok malah sebaliknya?
Share:
0 Komentar di Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 komentar:

Post a Comment

+ Follow
Join on this site

with Google Friend Connect

MUSIC

small rss seocips Music MP3
Kegabutan Admin !!!

Recent Post

seocips f G t
Hallo, Nama saya Saparwadi Ashari, Saya lahir di Dusun
Lemer dusun terpencil di Kecamatan Sekotong Lombok Barat, ADD sosial Network saya. Read More »
 

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER