Sejarawan dan juga pakar militer Prof Salim Said pernah mengatakan bahwa tentara Republik Indonesia ini unik, bersifat "Self-Created Army". Dikatakan self-created karena dulu pembentukan TNI berawal dari para relawan dan laskar yang dengan penuh kesadaran menggabungkan diri dan menyatukan visi. Benarlah dhawuh Hadratussyaikh Kyai Hasyim Asyari yang mengatakan bahwa Nasionalisme dan Agama adalah dua hal yang saling menguatkan.
72 Tahun yang lalu, berbondong-bondonglah pemuda, santri, laskar mujahid hizbullah, dsb sukarela mendaftarkan diri bersama dengan mantan anggota Heiho (orang Indonesia yang menjadi tentara reguler Jepang), KNIL (Koninklijk Nederlands Indische Leger – pribumi yang jadi Angkatan Darat Hindia Belanda). Tujuan mereka satu, bersiaga mempertahankan Republik yang waktu itu baru berusia 45 hari dari gempuran Belanda. Mayor Jenderal Oerip Soemoharjo yang menyadarkan perlunya pembentukan angkatan bersenjata ini.
Sejak awal dibentuknya BKR yang kemudian menjadi TKR dan TNI, para kyai
dan tokoh-tokoh pesantren yang terdidik di kesatuan PETA dan Hisbullah
serta Sabilillah memiliki peran vital dalam pembentukan barisan-barisan
dalam kemiliteran. Menurut Ustadz Adi Hidayat dalam salah satu
kajiannya, perjuangan melawan penjajah Belanda dan Jepang bukan hanya
karena nasionalisme, namun faktor yang dominan adalah karena agama para
pejuang diusik oleh penjajah. Kita ketahui bersama, para penjajah punya
misi Gold, Gospel, and Glory.
Sejarawan NU, Dr. Agus Sunyoto pernah meneliti bahwa dalam sejarah pembentukan TNI, mereka yang tercatat sebagai komandan batalyon sejak BKR diubah menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) pada 5 Oktober 1945, mayoritas berasal dari kesatuan PETA, Hisbullah, Sabilillah, Seinendan, Keibodan, Heiho, masyarakat pejuang, dan bekas KNIL mayoritas adalah prajurit yang berlatar pendidikan pesantren. Maka wajarlah yang dikatakan Panglima TNI saat ini Jenderal Gatot Nurmantyo bahwa Umat Islam adalah benteng pertahanan terakhir NKRI.
Perlu diketahui juga, amanah sebagai Panglima pertama kali dijabat Jenderal Soedirman, seorang eks perwira PETA yang juga Guru di SD Muhammadiyah. Sebagai panglima pertama, Jenderal Soedirman tidak dipilih oleh Presiden Soekarno, tetapi dipilih sendiri oleh para anggota TKR sendiri secara musyawarah melalui sebuah rapat yang disebut Konferensi TKR. TNI kuat bersama rakyat.
Dirgahayu TNI ke 72, Semoga sukses dan berkah selalu.
ttd. rakyat biasa
DirgahayuTNI72
FB: Rama Ekawidiya
Sejarawan NU, Dr. Agus Sunyoto pernah meneliti bahwa dalam sejarah pembentukan TNI, mereka yang tercatat sebagai komandan batalyon sejak BKR diubah menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) pada 5 Oktober 1945, mayoritas berasal dari kesatuan PETA, Hisbullah, Sabilillah, Seinendan, Keibodan, Heiho, masyarakat pejuang, dan bekas KNIL mayoritas adalah prajurit yang berlatar pendidikan pesantren. Maka wajarlah yang dikatakan Panglima TNI saat ini Jenderal Gatot Nurmantyo bahwa Umat Islam adalah benteng pertahanan terakhir NKRI.
Perlu diketahui juga, amanah sebagai Panglima pertama kali dijabat Jenderal Soedirman, seorang eks perwira PETA yang juga Guru di SD Muhammadiyah. Sebagai panglima pertama, Jenderal Soedirman tidak dipilih oleh Presiden Soekarno, tetapi dipilih sendiri oleh para anggota TKR sendiri secara musyawarah melalui sebuah rapat yang disebut Konferensi TKR. TNI kuat bersama rakyat.
Dirgahayu TNI ke 72, Semoga sukses dan berkah selalu.
ttd. rakyat biasa
DirgahayuTNI72
FB: Rama Ekawidiya







