Jika Prabowo menyebut negara ini bisa bubar 2030, maka Aku bilang Indonesia yang besar ini bisa bubar di tahun 2022.
Perkiraan ini ku dapat dari artikel dari sebuah majalah islam modern kelompok tertentu yang terbit di tahun 2005. Saat itu belum ramai medsos. Di covernya tercetak foto Hassan Nasrullah, mujahidin Timur tengah yang kepalanya di hargai puluhan juta dolar oleh Kafir harobiy Amerika.
Menurut tulisan itu, di sebutkan bahwa ada agenda penting Zionis Yahudi untuk menghapuskan Indonesia dan Pakistan di tahun 2022. Alasannya tentu saja karena Dua negara ini adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia.
Mungkin artikel itu hanya prediksi biasa, tapi bukan tidak mungkin juga jadi kenyataan. Mari kita lihat kenyataan saat ini.
Pakistan, negara kedua terbesar penduduk muslimnya sekarang sudah sering kita dengar teror bom mengguncang negara itu. Entah siapa pelakunya, yang pasti kekacauan terus menggoncang.
Lalu negara kita ini, bibit perpecahan begitu nyata di depan mata. Hampir tidak adalagi ruang diskusi dan dialog yang sehat, baik antar anak bangsa, sesama umat bahkan keluarga sendiri. Kita seolah di buat sibuk dengan urusan yang sesungguhnya sepele saja.
Di akui atau tidak, residu pilpres kemaren ini luar biasa sekali dampaknya di tengah-tengah kita. Polarisasi dan keterbelahan kian lebar, sulit untuk menyatukan ceceran kepingan yang cerai berai. Sungguh jahat dan keji sekali plopor utama di sebalik kekisruhan ini semua.
Lebih mirisnya lagi, keadaan ini seperti di pelihara di biarkan begitu saja. Dengan santai saja para elite itu merasa cukup dengan jabat tangan dan ngopi bareng lalu berujar rekonsiliasi. Gak adalagi cebong kampret.
Pandir sekali wahai bapak-bapak terhormat !!
Lihat dan rasakan kegelisahan kami ini.
Kami resah dengan konfrontasi tiada akhir yang selalu menghiasi timeline medsos sehari-hari. Masih ada luka dan kekecewaan di sebagian rakyat. Perseteruan Klompok moderat dan tradisional masih terjadi, pergulatan santri salafiy dan santri masa kini masih ramai. NU dan Wahabi, juga klompok lainnya lagi, semua belum move on.
Padahal harapan besar kita bersama, pasca pilpres ini, kita bisa kembali bersatu, berdamai demi satu tujuan membangun bangsa, memajukan Agama dalam kesejahteraan.
Sayang, sepertinya harapan itu kosong belaka.
Penguasa lebih suka memelihara para buzzer untuk membenarkan segala kedunguannya, alih-alih mengoptimalkan media center resmi untuk meluruskan persepsi dan polemik.
Padahal, tidak susah mengundang tokoh dan kelompok yang bersebrangan. Kita akan gembira bila Negara mengundang HRS, Tokoh2 ex HTI, UAS, UAH, Aagym, Usyadz Felix juga tokoh lainnya yang kritis, biarkan mereka duduk bareng berdialog dengan Tokoh-tokoh NU dan Ormas agama lainnya yang selama ini di pandang selalu bersebrangan.
Dengar dan rumuskan masalah yang di ributkan selama ini, singkirkan ego merasa kuat dan benar sendiri. Simpan dulu Slogan NKRI harga mati, Pancasila hanya di klaim milik seorangan semata. Lalu fasilitasi jalan keluarnya.
InsyaAllah, kedamaian akan menyertai bangsa ini.
Ngeri dan prihatin melihat perang mulut dan komentar , padahal sesama islam saat ini.
Sadarkah kita dengan skenario pihak ketiga ?
Waspadalah !!
Malu dan perih hati ini,
Masih jelas dalam ingatan, sebelum 2010 ketika terjadi invasi besar-besaran zionis israel memborbadir Ghaza, palestina. Saat itu reaksi umat islam indonesia begitu luar biasa, long march damai ribuan massa memprotes tindakan biadab itu. Sampai, Alm Syech Yassin pemimpin Hammas kala itu terharu dan mengucapkan syukur dan terimakasih pada Muslim indonesia.
Tapi sekarang, apa yang terjadi ?
Apa peran kita bagi dunia islam yang sedang di ujung tanduk ini. Kita sibuk baku hantam dengan saudara sendiri.
Menyedihkan bukan.
Semoga kita masih waras dan tidak membawa masalah Dumay ini di alam nyata kita.







