Perjalanan panjang itu bernama kehidupan dan kematian, meskipun jarak waktu kehidupan dan kematian sesingkat waktu antara adzan dan iqamat tetapi setelah itu akan ada kehidupan abadi, kehidupan yang portalnya adalah kuburan, portal yang dipenuhi dengan kesunyiaan, kesendirian, kesepian nan menakutkan. Saat memasuki gerbang itulah semua amalan terputus, tinggal menunggu kalkulasi dari amal baik dan amal buruk berdasarkan perhitungan-perhitungan Tuhan.
Saya memilih menutup rapat apa-apa yang menjadi aib bagi diriku sendiri, kecuali untuk hal-hal yang tak bisa ku sembunyikan, saya hanya bisa menyesalinya, mengapa dulu sempat berbangga-bangga.
Kehidupan adalah sebuah perjalanan pendek menuju kematian, lahir lalu tumbuh dewasa, menua lalu mati.
Entah kenapa, saya tiba-tiba takut jika ternyata kinilah waktuku, bukankah izrail selalu mengintip pada ketidak siapan? Ia menangkap perintah Tuhan dengan tepat, tak bisa mundur atau maju, tak mungkin salah orang.
Beberapa tahun terakhir ini, saya sedang berupaya mengisi hidup dengan perjalanan-perjalan spritual sederhana, dimulai dari mengujungi makam-makam tanpa nama secara acak, lalu yang terjauh adalah mencari ridha Tuhan dengan tenggelam dalam samudera cintanya di bogor.
Dan dalam perjalanan saya menulis ini.
Berharap disana syaa mendapatkan keteguhan iman, semakin konsisten pada kebaikan-kebaikan dengan menjamu mereka yang fakir dan miskin dengan jamuan-jamuan terbaik, bukan dari sisa-sisa pesta pora.
Semakin senja usiaku, saya semakin takut akan kematian tetapi berleha-leha dalam mempersiapkan bekal amal.
Padahal saya sadar, seperti perjalanan lombok-jakarta ini, setinggi-tingginya saya terbang melewati waktu berjam-jam akhirnya akan berakhir di landasan pacu, lalu teratur masuk ke ruang kedatangan, meskipun sudah jelas arah dan tujuan, selalau ada keraguan, apakah akan sampai pada rencana awal ataukah malah terhenti lama karena macetnya ibu kota.









