Oleh: Tongkie Adalah Itong
Wajahnya berbinar; memancarkan pelangi dan aroma tanah yang basah oleh hujan pada sebuah sore itu. Wajah yang tampak berusaha melawan arus kehidupan yang membuatnya terlipat kecil kecil mengeriput pada beberapa tempat itu merekah; serupa bougenville menemukan pagi. Tampak benar ia senang. Sekelumit senyum kecil tersungging di mulutnya yang kering dan memucat. Tangan kirinya terbalut perban yang membungkus sebuah jarum kecil yang mengalirkan cairan infus melalui sebuah selang transparan menuju seluruh tubuhnya. Tubuh yang tampak lemah itu telentang dan ia sekali lagi tersenyum kecil.
“Tenang saja, Bu Rahni. Anda akan sembuh”. Demikian ucap seorang laki laki berpakaian putih dan berkumis tipis yang berada di sampingnya.
“Ibu harus optimis. Tidak boleh pasrah ya Bu”. lanjutnya sambil tersenyum meyakinkan perempuan itu.
“Terima kasih dokter!”. Bisiknya parau. Rautnya kian senang saat dokter itu mengangguk angguk seolah olah meyakinkannya bahwa tak lama lagi ia akan terbebas dari jerat perban dan jarum suntik; dari ranjang besi dan aroma obat obatan dalam kamar itu. Ia merasa bahwa sebentar lagi akan pulang dan menjumpai rumahnya di kampung yang tenang dan tenteram itu. Menemukan Buah Naga yang ia tanam di belakang rumahnya tengah ranum. Menemukan cucu perempuannya yang sangat menggemaskan itu. Perempuan kecil yang menjadi penyemangat hari harinya yang sungguh sangat menekan.
Kata optimis itu telah ia pelihara sejak sang dokter belum mengucapkannya saat ini. Meskipun rasanya terlalu lama ia berdiam diri di tempat yang sangat membosankan ini. Sudah mendekati 4 bulan ia bergelut dengan penyakit stroke yang menyebabkan tangan dan kaki sebelah kiri tak bisa digerakkan sama sekali.
Perempuan itu tersenyum sambil menahan haru mengenang cucu kesayangannya yang baru berusia 3 tahun tersebut telah kehilangan orang tuanya akibat sang maut yang tak pernah kompromi dan mengenal iba. Ia ingat saat dia serta anak dan menantu juga cucunya terperosok ke dalam jurang saat menumpang pada sebuah mobil angkot dalam perjalanan pulang dari acara pesta keluarga yang berjauhan. detik detik itu disaksikannya sang maut begitu dekat dan secara tiba tiba mendatanginya tanpa ada firasat apa-apa. Mobil yang ia tumpangi itu berguling guling dalam jurang menggilas semak semak dan membentur pohon besar dengan sangat keras. Lalu dia melihat anak dan menantunya bersimbah darah dan terjepit di antara kursi dan kap mobil yang penyok. Wajahnya robek oleh pecahan kaca dan ia seperti merasa bermimpi; mimpi yang sangat buruk hingga tiba tiba suara lengking tangis bayi perempuan merobek kesadarannya. Cucunya tersebut dengan sangat ajaib selamat tanpa ada sedikitpun luka dan ia menangis.
“Inaq! Inaq! Kenapa Inaq?”.
Perempuan tersebut tergagap dan ia segera mengusap matanya. Seorang anak laki laki berusia sekitar 15 tahun duduk di sampingnya memandangnya dengan lekat. Ia paham bahwa perempuan sekaligus ibunya tersebut sedang mengingat tragedy yang sudah berlalu 2 tahun itu. Ia memegang erat tangan ibunya dan ia juga menangis sambil menunduk dalam dalam. Bahunya terguncang seperti sebuah bidak dihempaskan gelombang ke sana kemari. Lalu, sekali lagi perempuan itu mengalirkan air bening dari pelupuk matanya yang lelah. tatapannya kosong dan ia menerwang entah ke mana. Senyum iyu lekang begitu saja dan wajah keriput itu mendadak hening.
Petang turun diiringi langkah gerimis. Gelap nian dan seseklai kilat mengintip permukaan. Serupa blitz kamera dalam kamar yang gelap tanpa lampu dan saat itu pula lagi lagi tuan maut datang menghampiri kamar seratus dua puluh itu. Berjalan dengan tegap melewati lorong dan koridor rumah sakit yang penuh oleh orang-orang yang tertidur di emperan dan koridor tersebut. Menunggu keluarganya yang juga menunggu giliran pertemuan dengannya. Sang Maut datang mengintip kamar tempat perempuan dan anaknya menganvaskan kesedihan masa lalu. Menerobos pintu dan dinding kamar itu; sayapnya membentang membawa kegelapan nan mencekam. Perempuan itu tertegun cemas. Keringat mengalir dari segenap pori-pori jisimnya yang tiba tiba menjadi dingin.
Pada suasana lain. ramaja yang sedang memeluk ibunya tertegun sejenak saat ia merasa tubuh ibunya dingin dan basah oleh keringat. Wajahnya mendadak cemas saat sang ibu diam tanpa suara dengan mata yang tak bergerak. Ia berteriak dan berhamburan keluar kamar.
“suster. Suster. dokter! Tolong!”.
Suaranya memecah keeheningan koridor tersebut dan segera saja suasana menjadi begitu sibuk. Sang dokter dengan beberapa orang perawat hilir mudik memberikan segala pertolongan. anak laki laki tersebut menangis terduduk di sudut ruangan. Segera saja ia berlari menuju mushalla mengambil air wudhu lalu menyambar sebuah qur’an dan segera kembali ke kamar tersebut. Dengan suara tergetar ia melantunkan ayat ayat suci. Suaranya menembus prana sang maut yang tiba tiba tertegun menatap perempuan yang akan ia cabut nyawanya itu.
“mengapa berhenti, Tuan?”. sang perempuan menatap lekat Sang Maut.
“Aku memang belum ikhlas engkau ambil sebab aku masih memiliki janji yang harus kutepati. Cucu perempuanku menanti setelah kau juga merampas kebahagiaan dan kasih sayang orang tuanya tanpa kasihan”.
Sang Maut tertegun!
“Bagaimana harus kupertanggungjawabkan dosa atas ketidakmampuanku menepati janji jika sebelum sempat kupenuhi aku harus menyerahkan alat penggerak jasadku kepadamu?. Tolong jelaskan hal itu, tuan!”.
Sang Maut terdiam!
“Aku hanya ingin kepastian tuan! Jika memang kau mencabut rohku saat ini, bisakah Tuhan mengampuni dosa kelalaianku itu? bagaimana jika justru lantaran itu aku diabaikan-Nya?. Sungguh! aku tak ingin menderita lagi di sana karena di dunia ini aku sudah kenyang dengan kegetiran”.
Sang Maut membungkam!
“tuan pasti takkan lupa. Ketika aku harus mengandung anak laki laki-ku yang pertama, tuan juga mengambil suamiku tanpa memberikan waktu untuknya melihat dan mendengar suara anak laki lakinya itu. Ia pasti takkan membayangkan jika sekarang anaknya tersebut sudah fasih mengaji dan suaranya sangat bagus membaca firman kudus tuan-mu. Dengarlah suaranya tuan! sangat indah! Tengok air matanya tuan!”.
Sang maut membatu!
“Tuan juga pasti ingat ketika anak pertamaku yang perempuan yang juga mungkin baru merasakan kebahagiaan atas keluarga kecilnya yang sederhana, justru tuan ambil di dalam jurang dan hanya menyisakan anaknya dan aku yang terus menanggung kepedihan dari kenangan tentang mereka. Mengapa tidak tuan ambil kami semuanya bersamaan? Mungkin itu akan lebih baik tuan karena aku tak seperti tuan yang kuat menahan perasaan”.
Sang maut mengibaskan sayapnya! Kemilau sinar menerobos masuk menyilaukan mata. Tanpa bisa melihat ia mendengar sang maut berkata:
“Baiklah! akan kukunjungi kau saat janjimu kau tunaikan. Saat itu takkan ada alasan lagi. Inilah kebaikan Tuhan untukmu; Ia masih menerima alasan alasan manusia meski kaummu sungguh di luar batas. Suka ingkar janji. Suka merusak bumi sebagai tempat tinggal mereka sendiri. Gemar berperang sesama. Hobi korupsi. Mereka hanya memiliki banyak permintaan tapi enggan memberi. Ingatlah! Tuhan takkan rugi meski manusia ingkar karena itu semua demi jalan mereka sendiri”.
Perlahan sinar terang meredup dan kembali seperti semula. Sang perempuan tersenyum kecut. Ia membuka matanya dan ia melihat berpasang pasang mata mengawasinya sambil tersenyum. Anak laki lakinya menghambur ke dalam pelukannya dan ia menangis bahagia.
***
Perempuan muda yang cantik dengan lengkung alis rapi menaungi mata binary yang indah. Hidungnya membusung angkuh melindungi lipatan bibir tipis yang mendelima. Wajah itu indah nian; tak ubahnya purnama dilingkari hello di tengah hamparan langit yang terang. Teduh dan menenangkan meski saat ini di tempat ia duduk memaku; sosok perempuan kesayangannya tengah terbujur kaku di selimuti kain batik. Perempuan yang telah menjadi bagian penting hidupnya itu telah pergi jauh dan tak mungkin kembali. Tapi tak ada air mata di antara mata indahnya itu. Ia telah menegaskan pada Sang Maut bahwa betapa ia gigih dan siap, seperti pesan perempuan kesayangannya sebelum ia pergi, bahwa ia akan dijemput sebagai balasan atas penundaannya untuk membesarkan dirinya. Perempuan tua yang telah menjadi ibu sekaligus neneknya selama 20 tahun itu telah paham bahwa perjanjian tidaklah untuk dilanggar. “Jangan menangisiku”, itu pesan terakhirnya. Maka jelaslah ia menelan air mata itu dan membungkusnya rapat rapat dalam sukma. Maka, jadilah perkabungan itu tanpa air mata.
Barejulat, pertengahan tahun 2013







