Sebab berbagi begitu indah..

SAYA HARUS SEMBUH DARI BIPOLAR


Bipolar adalah gangguan kejiwaan berupa perubahan mood,sikap atau perilaku secara ekstrim, ketika merasakan kesedihan dia akan mengalami depresi berat dan cenderung terpuruk hingga bunuh diri/ suicide dan bisa saja mengalami perubahan sikap mendadak menjadi bahagia secara over, bersemangat dan percaya diri secara berlebihan.

Kita mungkin asing mendengar kata bipolar sehingga ciri-ciri bipolar yang ada pada seseorang  sering diidentikkan dengan kepribadian ganda oleh kebanyakan orang, pemahaman tersebut terjadi karena kurangnya informasi dan pengetahuan di masyarakat terkait dua kondisi tersebut, padahal secara kesehatan, Bipolar dan Kepribadian ganda berbeda satu dengan yang lainnya. Perbedaan antara Bipolar dengan Kepribadian ganda memang sangatlah tipis, tetapi dapat dibedakan dari beberapa ciri-ciri pada seseorang..

Kepribadian ganda cenderung dirasakan sebagai kerasukan atau kesurupan karena adanya 2 atau lebih kepribadian yang ada pada dirinya. Hal itu terjadi karena respon adaptif terhadap rasa sakit, trauma, rasa takut berlebih sehingga diperlukan sebuah pertahanan diri dalam bentuk kepribadian yang lain. Hal paling aneh pada pengidap gangguan kepribadian ganda adalah, masing-masing kepribadian mempunyai masing-masing identitas yang berbeda baik pola pikir, perilaku, cara berbicara bahkan jenis kelamin dan usia. Ketika berada pada sbuah kepribadian yang menuntutnya untuk menjadi pembangkang maka akan keluar arogansi, temperamental tinggi serta hal lainnya secara penuh, sehingga penderita gangguan jiwa kepribadian ganda merasakan ada orang lain pada dirinya, seperti bukan dia.

Di tempat saya, seseorang yang  mengalami gangguan kejiwaan merupakan suatu aib bagi keluarga sehingga harus ditutupi karena bagi mereka yang mendapatkan sebutan sebagai orang dengan gangguan jiwa adalah orang yang berbeda, tak waras dan tak berhak mendapat tempat ditengah masyarakat. Padahal jika mau sedikit saja terbuka terhadap pengetahuan tentang kejiwaan, terdapat berbagai macam jenis gangguan kejiwaan yang salah satunya adalah Bipolar.

Macam-macam gangguan kejiwaan yang sering kita jumpai misalnya saja gangguan kecemasan (Contoh: depresi dan Bipolar), gangguan mood, gangguan psikotik (Contoh: delusi dan skizofrenia), gangguan makan (contoh: Obesitas atau penurunan berat badan ekstrim), gangguan control impuls (Contoh: keinginan mencuri yang tak meskipun tidak dibutuhkan atau mampu dikuasai secara sah [Klipto]), gangguanKpribadian, Obsessive-Compulsive Disorder (contoh: sesorang takut dengan kakinya yang kering sehingga akan tetap berusaha untuk membasahkan kakinya), Gangguan setres pasca trauma (contoh: trauma karena kekrasan fisik atau seksual), ganguuan disosiatif (contoh: gangguan pada ingatan dan kesadaran secara ekstrim), gangguan seksual dan gender (Contoh: Banci), Gangguan Tic (Contoh: Gangguan pada fisik berupa gerakan-gerakan berulang diluar control otak) dan masih banyak lagi jenis ganggua-gangguan kejiwaan yang tidak bias saya tulis karena keterbatasan pengetahuan dan perbedaan bidang akademik yang saya dalami.

 

Saya nekat menulis tentang bipolar karena saya termasuk salah seorang penderita yang di diagnosa oleh psikiater beberpa bulan lalu dan mengalami denial (penolakan) hingga saat ini. Saya lebih banyak membaca sebgai referensi untuk keluar dari lingkaran ini dan mencari tahu sendiri untuk menghadapi “sakit” yang saya hadapi, saya berinteraksi dengan banyak penderita bipolar di grup-grup media social termasuk dengan penyintas.

 

Saya tak pernah tahu penyebab pasti sejak kapan saya mengalami gangguan Bipolar, tetapi diagnosa itu menguat setelah saya membaca banyak sumber yang merujuk pada hal-hal yang pernah saya alami dan lingkungan tempat saya tumbuh.

 

Saya juga mengambil keputusan sendiri bahwa saya tidak ingin tergantung pada obat-obatan yang secara ekonomis akan membuat beban pengeluaran yang besar, meskipun penggunaan BPJS dapat dimaksimalkan untuk pengobatan gangguan bipolar, tetapi tetap saja efek jangka panjang untuk penggunaan obat-obatan dalam jangka panjang akan menimbulkan permasalahan baru yang kan menambah beban bagi saya dan keluarga kecil saya suatu saat nanti.

Pengunaan obat-obatan pada jangka pendek berupa efek kantuk, lesu dan hilangnya semangat akan membuat saya abai terhadap kewajiban-kewajiban saya sebagai pekerja dan kewajiba saya sebagai kepala rumah tangga dalam hal pengasuhan anak-anak saya.

 

Saya mempunyai sifat keras kepala dalam banyak hal, meskipun seiring usia saya mengalami pelunakan sikap demi kemaslahatan, mengutip dari sebuah buku yang membahas tentang madzhab Maliki “Jalbu al-mashâlih muqaddam wa daru almafasid muakkhar – menarik kemaslahatan lebih diutamakan, menolak hal buruk/kerusakan kemudian”

 

Hal itu pula yang membuat saya mempunyai rule sendiri terhadap apa yang akan saya ambil sehingga sulit dipengaruhi orang lain jika hal tersebut murni tentang diri saya. Karena itu ketika saya ingin sembuh dan keluar dari diagnosa psikiater tersebut dengan cara perubahan pola pikir dan menyembuhkan diri saya, maka saya memilih mencari banyak referensi tentang bipolar daripada menunggu jadwal konsultasi saya ke psikiater.

 

Saya bukan mau menolak pengobatan medis, hanya saja kembali lagi pada tingkat kemudaratan dan manfaat yg akan saya alami, saya lebih memilih mengobati diri saya sendiri dengan diri saya sendiri.

 

Apalagi gangguan kejiwaan bipolar, pikiran memegang peranan penting. Sedangkan pengobatan secara medis akan berdampak ke fisik.

 

Mungkin ada yang bertanya kenapa saya memilih untuk konsultasi ke psikiater daripada ke psikolog, hanya karena kemudahan akses,saya mengetahui ada salah seorang psikiater membuka praktek mandiri sedangkan saya tidak mengetahui ada psikolog yang membuka praktek secara mandiri kecuali di Rumah Sakit Jiwa, sedangkan ketika keluar masuk ke rumah sakit jiwa saja, maka akan mendapatkan beban tambahan berupa predikat sebagai orang gila. Saya menghindari hal remeh temeh itu demi terciptanya sosialisasi sehat antara saya dengan orang lain.

Banyak orang yang melihat Bipolar sebagai penyakit biasa saja, semua orang mengalaminya, semua orang mengalami perubahan sikap secara mendadak, mungkin pernyataan tesebut benar bagi mereka yang bukan pengidap gangguan jiwa bipolar, tetapi bagi kami yang merasakan, ada sesuatu hal yang berbeda, yang tak beres dan tak biasa pada diri kami, perubahan emosi secara mendadak dan ekstrim bahkan tanpa alasan membuat kami merasa ini benar-benar aneh.

Lucunya, bagi mereka yang bukan pengidap bipolar dengan santainya mengatakan bahwa apa yang kami alami adalah karena kesalahan kami yang jauh dari Tuhan, seperti tak cukup mencibir kami, mereka mencambuk kami sambil menelanjangi kami keliling kota, sebuah sikap yang tak layak dilakukan karena akan memperburuk emosi dan memperparah tindakan yang akan kami perbuat.

Menjadi gila secara utuh mungkin lebih baik karena tidak merasakan sakit, depresi, takut dan tertekan, tidak akan mendengar cibiran serta tak perduli perlakuan apapun yang dialaminya.

Saya percaya pada diri saya ada sebuah kekuatan yang akan menuntun saya untuk tetap berjalan pada tujuan saya untuk sembuh, saya memilih jalan saya sendiri, meskipun saya mengalami kegagalan untuk mempertahankan emosi akibat dari perbedaan sikap dan perilaku orang-orang yang bergaul dengan saya, betapa rapuhnya kejiwaan mereka yang mengidap bipolar.

 

 

 

 

Sekotong, 11 Maret 2021 – 02.14 AM

Upank


Share:
0 Komentar di Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 komentar:

Post a Comment

+ Follow
Join on this site

with Google Friend Connect

MUSIC

small rss seocips Music MP3
Kegabutan Admin !!!

Recent Post

seocips f G t
Hallo, Nama saya Saparwadi Ashari, Saya lahir di Dusun
Lemer dusun terpencil di Kecamatan Sekotong Lombok Barat, ADD sosial Network saya. Read More »
 

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER