Bipolar adalah gangguan kejiwaan berupa perubahan
mood,sikap atau perilaku secara ekstrim, ketika merasakan kesedihan dia akan
mengalami depresi berat dan cenderung terpuruk hingga bunuh diri/ suicide dan
bisa saja mengalami perubahan sikap mendadak menjadi bahagia secara over,
bersemangat dan percaya diri secara berlebihan.
Kita mungkin asing mendengar kata bipolar sehingga
ciri-ciri bipolar yang ada pada seseorang
sering diidentikkan dengan kepribadian ganda oleh kebanyakan orang,
pemahaman tersebut terjadi karena kurangnya informasi dan pengetahuan di
masyarakat terkait dua kondisi tersebut, padahal secara kesehatan, Bipolar dan
Kepribadian ganda berbeda satu dengan yang lainnya. Perbedaan antara Bipolar
dengan Kepribadian ganda memang sangatlah tipis, tetapi dapat dibedakan dari
beberapa ciri-ciri pada seseorang..
Kepribadian ganda cenderung dirasakan sebagai
kerasukan atau kesurupan karena adanya 2 atau lebih kepribadian yang ada pada
dirinya. Hal itu terjadi karena respon adaptif terhadap rasa sakit, trauma,
rasa takut berlebih sehingga diperlukan sebuah pertahanan diri dalam bentuk
kepribadian yang lain. Hal paling aneh pada pengidap gangguan kepribadian ganda
adalah, masing-masing kepribadian mempunyai masing-masing identitas yang
berbeda baik pola pikir, perilaku, cara berbicara bahkan jenis kelamin dan
usia. Ketika berada pada sbuah kepribadian yang menuntutnya untuk menjadi
pembangkang maka akan keluar arogansi, temperamental tinggi serta hal lainnya
secara penuh, sehingga penderita gangguan jiwa kepribadian ganda merasakan ada
orang lain pada dirinya, seperti bukan dia.
Di tempat saya, seseorang yang mengalami gangguan kejiwaan merupakan suatu
aib bagi keluarga sehingga harus ditutupi karena bagi mereka yang mendapatkan
sebutan sebagai orang dengan gangguan jiwa adalah orang yang berbeda, tak waras
dan tak berhak mendapat tempat ditengah masyarakat. Padahal jika mau sedikit
saja terbuka terhadap pengetahuan tentang kejiwaan, terdapat berbagai macam
jenis gangguan kejiwaan yang salah satunya adalah Bipolar.
Macam-macam gangguan kejiwaan yang sering kita
jumpai misalnya saja gangguan kecemasan (Contoh: depresi dan Bipolar), gangguan
mood, gangguan psikotik (Contoh: delusi dan skizofrenia), gangguan makan
(contoh: Obesitas atau penurunan berat badan ekstrim), gangguan control impuls
(Contoh: keinginan mencuri yang tak meskipun tidak dibutuhkan atau mampu dikuasai
secara sah [Klipto]), gangguanKpribadian, Obsessive-Compulsive Disorder
(contoh: sesorang takut dengan kakinya yang kering sehingga akan tetap berusaha
untuk membasahkan kakinya), Gangguan setres pasca trauma (contoh: trauma karena
kekrasan fisik atau seksual), ganguuan disosiatif (contoh: gangguan pada
ingatan dan kesadaran secara ekstrim), gangguan seksual dan gender (Contoh:
Banci), Gangguan Tic (Contoh: Gangguan pada fisik berupa gerakan-gerakan
berulang diluar control otak) dan masih banyak lagi jenis ganggua-gangguan
kejiwaan yang tidak bias saya tulis karena keterbatasan pengetahuan dan
perbedaan bidang akademik yang saya dalami.
Saya nekat menulis tentang bipolar karena saya
termasuk salah seorang penderita yang di diagnosa oleh psikiater beberpa bulan
lalu dan mengalami denial (penolakan) hingga saat ini. Saya lebih banyak
membaca sebgai referensi untuk keluar dari lingkaran ini dan mencari tahu
sendiri untuk menghadapi “sakit” yang saya hadapi, saya berinteraksi dengan
banyak penderita bipolar di grup-grup media social termasuk dengan penyintas.
Saya tak pernah tahu penyebab pasti sejak kapan saya
mengalami gangguan Bipolar, tetapi diagnosa itu menguat setelah saya membaca
banyak sumber yang merujuk pada hal-hal yang pernah saya alami dan lingkungan
tempat saya tumbuh.
Saya juga mengambil keputusan sendiri bahwa saya
tidak ingin tergantung pada obat-obatan yang secara ekonomis akan membuat beban
pengeluaran yang besar, meskipun penggunaan BPJS dapat dimaksimalkan untuk
pengobatan gangguan bipolar, tetapi tetap saja efek jangka panjang untuk
penggunaan obat-obatan dalam jangka panjang akan menimbulkan permasalahan baru
yang kan menambah beban bagi saya dan keluarga kecil saya suatu saat nanti.
Pengunaan obat-obatan pada jangka pendek berupa efek
kantuk, lesu dan hilangnya semangat akan membuat saya abai terhadap
kewajiban-kewajiban saya sebagai pekerja dan kewajiba saya sebagai kepala rumah
tangga dalam hal pengasuhan anak-anak saya.
Saya mempunyai sifat keras kepala dalam banyak hal,
meskipun seiring usia saya mengalami pelunakan sikap demi kemaslahatan,
mengutip dari sebuah buku yang membahas tentang madzhab Maliki “Jalbu
al-mashâlih muqaddam wa daru almafasid muakkhar – menarik kemaslahatan lebih
diutamakan, menolak hal buruk/kerusakan kemudian”
Hal itu pula yang membuat saya mempunyai rule
sendiri terhadap apa yang akan saya ambil sehingga sulit dipengaruhi orang lain
jika hal tersebut murni tentang diri saya. Karena itu ketika saya ingin sembuh
dan keluar dari diagnosa psikiater tersebut dengan cara perubahan pola pikir
dan menyembuhkan diri saya, maka saya memilih mencari banyak referensi tentang
bipolar daripada menunggu jadwal konsultasi saya ke psikiater.
Saya bukan mau menolak pengobatan medis, hanya saja
kembali lagi pada tingkat kemudaratan dan manfaat yg akan saya alami, saya
lebih memilih mengobati diri saya sendiri dengan diri saya sendiri.
Apalagi gangguan kejiwaan bipolar, pikiran memegang
peranan penting. Sedangkan pengobatan secara medis akan berdampak ke fisik.
Mungkin ada yang bertanya kenapa saya memilih untuk
konsultasi ke psikiater daripada ke psikolog, hanya karena kemudahan akses,saya
mengetahui ada salah seorang psikiater membuka praktek mandiri sedangkan saya
tidak mengetahui ada psikolog yang membuka praktek secara mandiri kecuali di
Rumah Sakit Jiwa, sedangkan ketika keluar masuk ke rumah sakit jiwa saja, maka
akan mendapatkan beban tambahan berupa predikat sebagai orang gila. Saya
menghindari hal remeh temeh itu demi terciptanya sosialisasi sehat antara saya
dengan orang lain.
Banyak orang yang melihat Bipolar sebagai penyakit
biasa saja, semua orang mengalaminya, semua orang mengalami perubahan sikap
secara mendadak, mungkin pernyataan tesebut benar bagi mereka yang bukan
pengidap gangguan jiwa bipolar, tetapi bagi kami yang merasakan, ada sesuatu
hal yang berbeda, yang tak beres dan tak biasa pada diri kami, perubahan emosi
secara mendadak dan ekstrim bahkan tanpa alasan membuat kami merasa ini
benar-benar aneh.
Lucunya, bagi mereka yang bukan pengidap bipolar
dengan santainya mengatakan bahwa apa yang kami alami adalah karena kesalahan
kami yang jauh dari Tuhan, seperti tak cukup mencibir kami, mereka mencambuk
kami sambil menelanjangi kami keliling kota, sebuah sikap yang tak layak
dilakukan karena akan memperburuk emosi dan memperparah tindakan yang akan kami
perbuat.
Menjadi gila secara utuh mungkin lebih baik karena
tidak merasakan sakit, depresi, takut dan tertekan, tidak akan mendengar
cibiran serta tak perduli perlakuan apapun yang dialaminya.
Saya percaya pada diri saya ada sebuah kekuatan yang
akan menuntun saya untuk tetap berjalan pada tujuan saya untuk sembuh, saya
memilih jalan saya sendiri, meskipun saya mengalami kegagalan untuk
mempertahankan emosi akibat dari perbedaan sikap dan perilaku orang-orang yang
bergaul dengan saya, betapa rapuhnya kejiwaan mereka yang mengidap bipolar.
Sekotong, 11 Maret 2021 – 02.14 AM







