Presiden pertama yang merupakan bapak Bangsa Indonesia pernah berkata,
“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia” Soekarno.
Pada masa kemerdekaan, para pemudalah yang memegang peranan penting menggelorakan semanagat perubahan dan kemerdekaan, tanpa menampik peran para tetua, para pemuda pada zaman itu lebih memilih memperjuangkan kemerdekaan dengan cara intelek.
Dimulai dengan gerakan yang dilakukan pemuda yang belajar School Tot Opleiding Van Inlands Artsen atau disingkat STOVIA, sutomo bersama 9 rekannya pada tanggal 20 Mei 1908 mendirikan Boedi Oetomo.
Meskipun Belanda menerapkan politik etnis dan Ras dan Kesukuan, tetapi Organisasi Boedi Utomo mampu membangkitkan kesadaran semua pemuda Indonesia untuk bergerak dan “memberontak” menuju kehdupan yang lebih baik, dari pergerakan para pemuda inilah kemudia menjadi pemantik semangat dan kesadaran rakyat Indonesia dalam membuat organisasi-oragnisasi di berbagai bidang, misalnya Sarekat Dagang Islam (1909),Muhammadiyah (1912) dan Nahdlatul Ulama (1926).
Tercatat juga bagaimana para pemuda mendorong dan mengambil peran penting pada pembacaan proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Pada waktu itu, para pemuda dengan semangat yang bergelora berbeda pendapat dengan tokoh-tokoh senio yang mempunyai banyak pertimbangan hingga berakhirnya dengan “penculikan” Soekarno sehari sebelum pembacaan Proklamasi yang menandai lahirnya Negara Baru dari cengkraman penjajahan yang dilakukan Bangsa Eropa (Belanda).
Pada tahun 1966, Demonstrasi besar selama 60 hari yang di pelopori oleh Mahasiswa Universitas Indonesia tercatat sebagai sebuah gerakan yang ingin memurnikan ideologi bangsa, menjalankan amanat UUD 1945 secara menyeluruh dan memaksa pemerintah Orde Lama untuk merombak kabinet serta membubarkan PKI.
Dan pada Tahun 1998, para pemuda melakukan gerakan “pemurnian” dan perubahan besar serta fendumental pada banyak hal mulai dari politik, ekonomi, sosial dan budaya, titik balik yang terjadi pada bulan Mei 1998 itu dikenal dengan sebutan Era Reformasi, jika pada Orde Baru, para intelektual dan Pemuda-pemuda yang kritis dibungkam dan kebebasan berkekspresi dibrangus, maka pada era reformasi nilai-nilai kebebesan mendapatkan tempat yang tinggi, meskipun saya mengakui bahwa kebebasan tersebut terlalu liar sehingga merusak kearifan lokal masyarakat yang sejatinya harus kita jaga dan lestarikan bersama.
Dari paparan diatas, kita memahami dan sadar betul bahwa pemuda itu memang benar adalah agen perubahan, pemuda mempunyai kekuatan besar dalam merubah arah dan sejarah sebuah bangsa.
McKinsey Global Institut mempunyai prediksi kuat bahwa Indonesai akan menguasai Ekonomi dunia di tahun 2030 yang akan datang karena Bonus Demografi, Indonesia akan mempunyai populasi usia produktif dua kali lipat dari usia bayi dan tua. Menurut data Bappenas, pada tahun 2045 Indonesia akan memiliki penduduk 321 juta jiwa dengan usia produktifnya mencapai angka 209 juta jiwa. Maka peran pemuda menjadi sangat penting dan menanggung lebih besar tanggung jawab daripada anak muda yang hidup saat ini; menjadi “ancaman” ataukah peluang.
Pada bebrapa tahun belakangan ini, pemuda Indonesia sedang mengalami “kegalauan” yang luar biasa hebat (mengutip perkataan tokoh politik senior NTB, Bang Fahri Hmazah pada acara deklarasi Gerbi NTB), kegalauan yang periodik, kegalauan yang sama yang pernah terjadi setiap 20-30 an tahun.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya, para pemuda lebih sering menghabiskan waktunya di warnet untuk bermain game akbiat dari disrupsi tekhnologi, asyik menghabiskan waktunya untuk bermalas-malasan (faktor internal) dan meniru politisi dengan “papa minta uang” maka generasi ketiga (Generasi yang lahir pasca reformasi) memiliki keinginan kuat untuk berubah dan mempunyai kesadaran yang jauh berbeda.
Perubahan-perubahan tersebut bisa saya rasakan dengan adanya kesadaran untuk berkumpul dalam hal-hal positif; membuat kelompok-kelompok pemuda tingkat dusun yang merangsang kembali rasa kebersamaa dan gotong royong, bukan hanya itu saja, kelompok-kelompok pemuda generasi ketiga ini meskipun sudah berpindah tongkrongan dari Warnet ke yang mobile (Handphone), mereka juga aktif terlibat pada kegiatan-kegiatan positif bernuansa spritual, sosial dan kemanusiaan, kesadaran tersebut dapat dilihat dari gerakan mereka saat terjadi bencana yang menimpa bebrapa wilayah di negeri tercinta kita ini.
Selalu ada harapan meskipun ditengah badai seklaipun, bahkan soekrno saat berucap meminta 10 pemuda untuk mengguncangkan dunia adalah saat -saat tersulit menjelang kemerdekaan Indonesia menghadapi penjajahan berkedok persaudaraan dari sesama Asia, juga menghadapi agresi militer belanda yang tak ingin Indoneisa merdeka.
Mari, ambil bagian menjadi 10 pemuda yang diminta oleh soekarno untuk Indonesia yang lebih baik.








