Adakah Tuhan?
Setelah berdebat dengan A. Hassan, tokoh atheis mengakui kekeliruan dan mengakui adanya Tuhan
Kisah Perdebatan A. Hassan dengan Tokoh Atheis
Gedung milik organisasi Al-Irsyad, Surabaya, Jawa Timur, hari itu penuh sesak dipadati massa. Almanak menunjukkan tanggal 2 dan 3 September 1955. Kota Surabaya yang panas, serasa makin menyengat dengan dilangsungkannya debat terbuka antara Muhammad Ahsan, seorang atheis yang berasal dari Malang, dengan Tuan A. Hassan, guru Pesantren Persatuan Islam (Persis), Bangil. Meski namanya identik dengan Islam, Muhammad Ahsan adalah orang atheis yang tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, dan
tidak pula meyakini bahwa alam semesta ini ada Yang Maha Mengaturnya. Ia juga menyatakan manusia berasal dari kera, bukan dari tanah sebagaimana dijelaskan Al-Qur’an. Pernyataan inilah yang memicu keresahan umat Islam.
Menurut keterangan Ustadz Abdul Jabbar, guru Pesantren Persis, yang menyaksikan perdebatan kala itu, hadirin yang datang cukup membludak. Lebih dari ratusan massa berkumpul, mengular sampai ke luar gedung. Kebanyakan dari mereka penasaran dengan perdebatan itu. Maklum, saat itu komunisme dan atheisme memang sedang bergeliat, sehingga masyarakat ingin mengetahui pokok pikiran kedua belah pihak dalam perdebatan tersebut.
Kaum muslimin saat itu mengganggap perdebatan ini penting, karena Muhammad Ahsan, telah secara terbuka di Surat Kabar Harian Rakyat, 9 Agustus 1955, meragukan keberadaan Tuhan. Tulisan Muhammad Ahsan adalah tanggapan dari ceramah yang disampaikan oleh Abdul Ghaffar Ismail, tokoh asal Sumatera Barat yang bermukim di Pekalongan, yang menyatakan bahwa orang yang tidak percaya Tuhan adalah orang yang tidak berakal. Abdul Ghaffar Ismail adalah ayahanda dari penyair terkenal, Taufik Ismail.
Untuk membantah itulah, tokoh atheis asal Malang itu membuat pernyataan di surat kabar tersebut. Ia juga menolak keyakinan Islam bahwa orang yang berbuat kebaikan di dunia, akan dibalas di akhirat kelak. Keyakinan Ahsan sama sejalan dengan kelompok Theosofi yang pada masa itu juga sedang bergeliat, yang menyatakan tidak ada pahala dan dosa, tidak ada surga dan neraka, yang ada hukum alam, kodrat alam. Ahsan juga berkeyakinan, segala sesuatu tercipta melalui evolusi alam, dan akan musnah dengan hukum alam juga. Dalam surat kabar itu, Ahsan menyatakan, “Pencipta itu mestinya berbentuk. Tidak mungkin suatu pencipta tidak berbentuk, ” tulisnya.
Ringkasnya pernyataan Tuan Muhammad Ahsan sang atheis itu diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Seseorang maupun ia percaya kepada Tuhan ataupun tidak ia tetap berakal
2.Pencipta semestinya berbentuk. Tidak mungkin sesuatu pencipta tidak berbentuk.
3. Manusia secara zhahir lebih dulu daripada Tuhan. Manusialah yang kemudian mengadakan Tuhan.
4. Sangat lucu sekali jika manusia berbuat kebaikan di dunia, kemudian nanti akan dibalas dengan kebaikan sesudah matinya.
5. Manusia berasal dari kera.
Atas pernyataan itu, Hasan Aidit, Ketua Front Anti Komunis di Surabaya, menghubungi A. Hassan agar bersedia bertukar pikiran dengan tokoh atheis itu. Sebelumnya, Hasan Aidit dan Bey Arifin sudah melayangkan tantangan debat di Forum Study Club Surabaya pada 12 Agustus 1955, namun rencana itu gagal. Ia kemudian menyusun rencana agar Ahsan yang atheis itu dipertemukan dengan A. Hassan, sosok yang dikenal ahli dalam berdebat soal-soal keislaman. A. Hassan dan Muhammad Ahsan bersedia bertemu di forum terbuka.
Singkat kata, perdebatan terbuka benar-benar terjadi. Karena dikhawatirkan akan berlangsung panas, maka panitia memberikan beberapa peraturan kepada hadirin yang datang menyaksikan. Hadirin tak boleh bertepuk tangan, tidak boleh bersorak sorai, tidak boleh saling berbicara, tidak menampakkan gerak-gerik yang merendahkan salah seorang pembicara, dan tidak boleh mengganggu ketentraman selama berlangsungnya perdebatan. Peraturan ini dibacakan oleh panitia, agar perdebatan tidak menjurus pada aksi kekerasan.
Sementara untuk orang yang berdebat dibuat aturan pula. Masing-masing berdiri di satu podium dan diberi mikrophone, kemudian saling bertukar pertanyaan dan jawaban. Sementara pimpinan acara, yaitu Hasan Aidit, duduk di sebuah meja didampingi seorang sekretaris untuk mencatat jalannya perdebatan. Tugas pimpinan acara adalah mengatur jalannya perdebatan, dan menegur siapa saja yang melanggar aturan.
Setelah dibuka dengan ceramah dari KH. Muhammad Isa Anshari, tokoh Persatuan Islam yang juga petinggi Partai Masjumi, acara pun di mulai. Perdebatan selama dua setengah jam itu berlangsung dalam format tanya jawab dan saling menyanggah pendapat yang diajukan.
Berikut poin-poin penting dari ringkasan perdebatan itu. Tokoh atheis Muhammad Ahsan akan disingkat menjadi (MA), sedangkan A. Hassan disingkat menjadi (AH):
A.H: Saya berpendirian ada Tuhan. Buat membuktikan keadaan sesuatu, ada beberapa macam cara; dengan panca indera, dengan perhitungan, dengan kepercayaan yang berdasar perhitungan, dengan penetapan akal. Maka tentang membuktikan adanya Tuhan, tuan mau cara yang mana?
M.A: Saya mau dibuktikan adanya Tuhan dengan panca indera dan perhitungan dan berbentuk. Karena tiap-tiap yang berbentuk, seperti kita semua, mestinya dijadikan oleh yang berbentuk juga…
A.H: Tidak bisa dibuktikan Tuhan dengan panca indera, karena ada banyak perkara yang kita akui adanya, tetapi tidak dapat dibuktikan dengan
panca indera…
M.A: Seperti apa?
A.H: Tuan ada punya akal, fikiran, dan kemauan?
M.A : Ada
A.H : Bisakan tuan membuktikan dengan panca indera?
M.A: Tidak bisa
A.H: Bukan suatu undang-undang ilmi (ilmiah) dan bukan aqli bahwa tiap-tiap satu yang berbentuk itu penciptanya mesti berbentuk juga. Ada banyak perkara, yang tidak berbentuk dibikin oleh yang berbentuk…
M.A: Seperti apa?
A.H: Saya berkata-kata, perkataan saya tidak berbentuk sedang saya sendiri yang menciptakannya berbentuk. Bom atom berbentuk dan bisa menghancurkan semua yang berbentuk di sekelilingnya, sedang akal yang membikinnya tidak berbentuk. Kekuatan elektrik (listrik) tidak berbentuk, tetapi bisa menghapuskan dan melebur semua yang berbentuk. Jadi, buat mengetahui sesuatu, tidak selamanya dapat dengan panca indera. Dan pencipta sesuatu yang berbentuk, tidak selalu mesti berbentuk….
Jawaban A. Hassan membuat si atheis, M. Ahsan, terdiam dan terdesak seperti terkena skak mat!
A. Hassan kemudian melanjutkan dengan lontaran pertanyaan…
A.H: Gedung Al-Irsyad ini jadi dengan sendirikah atau dibikin oleh manusia?
M.A: Dibikin oleh manusia.
A.H: Dari mana Tuan tahu bahwa gedung ini dibikin oleh manusia?
M.A: Kita bisa cari tukang yang membikinnya.
A.H: Bagaimana kalau tidak bisa bertemu? Saya rasa Tuan katakan gedung ini dibikin orang lantaran Tuan lihat beberapa rumah yang sedang dibikin, dan Tuan lihat ada persamaan antara rumah-rumah itu dengan gedung ini di dalam beberapa hal, lalu Tuan pastikan bahwa gedung inipun mestinya dibikin seperti rumah-rumah itu…
M.A: Ya, betul begitu.
A.H: Kalau begitu, Tuan tidak mengetahui dengan panca indera akan pembikin gedung ini, tetapi dengan perhitungan dan perbandingan
M.A: Ya, benar demikian
A.H: Pena yang saya pegang ini, jadi sendirikah atau dibikin?
M.A:Dibikin
A.H: Dari mana Tuan tahu bahwa pena ini dibikin? Adakah pernah Tuan lihat orang bikin pena ini?
M.A: Tidak
A.H: Tuan tidak lihat, dan saya percaya tidak ada siapapun di majlis ini telah melihat orang bikin pena. Tuan berkata pena ini dibikin orang lantaran Tuan pernah lihat orang bikin kursi, meja, bangku, terumpah kasut, dan sebagainya. Dari itu, Tuan percaya bahwa lantaran penapun satu barang, tentulah dibikin orang juga.
M.A: Ya, betul demikian.
A.H: Kalau demikian maka penetapan itu dengan perhitungan dan kepercayaan, bukan dengan panca indera. Kalau kita berjalan di suatu belukar, lalu berjumpa satu jam berkunci 24 jam dan sedang berjalan, tidakkah kita artikan bahwa jam itu kepunyaan seseorang dan orang itu lalui tempat ini belum lampau 24 jam.
M.A: Ya, betul
A.H: Ini adalah pengiraan dan perhitungan, bukan dengan panca indera.
Ketika kita lewat di satu kebun, tiba-tiba jatuh mati di hadapan kita seekor burung yang tembus dadanya berlumuran darah, bolehkah kita berkata bahwa sejumlah sel berkumpul dan berevolusi, lalu jadi anak panah atau peluru, lalu menuju ke burung tersebut dan membunuhnya?
M.A: Tidak bisa jadi. Mestinya ada yang memanah atau menembak burung itu.
A.H: Walaupun kita tidak lihat pembunuh itu, walaupun kita tidak dengar suara tembakan, tetapi tetap kita berkata bahwa burung itu mati ditembak atau dipanah, karena tidak bisa menerima terjadinya sesuatu dengan tidak ada yang menyebabkannya.
M.A: Ya, betul begitu.
A.H: Di dalam dunia ini adakah negeri yang dinamai London, Washington, dan Moskow?
M.A: Ada
A.H: Apakah Tuan sudah pernah ke negeri-negeri itu?
M.A: Belum
A.H: Maka dari manakah Tuan tahu adanya negeri itu?
M.A: Dari orang-orang
A.H: Bisa jadi diantara orang-orang itu ada yang belum pernah ke sana.Walau bagaimanapun keadaannya, buat Tuan, adanya negeri- negeri itu, hanya dengan perantaraan percaya, bukan dengan panca indera.
M.A: Ya, memang begitu.
A.H: Dari pembicaraan kita, ternyata ada terlalu banyak perkara yang kita terima dan akui adanya semata-mata dengan kepercayaan dan perhitungan, bukan dengan panca indera.
M.A: Ya memang begitu
A.H: Oleh itu, tentang adanya Tuhan, tidak usah kita minta bukti dengan panca indera, tetapi cukup dengan perhitungan dan pertimbangan akal, sebagaimana kita akui adanya ruh, akal, kemauan, fikiran, percintaan, kebencian, dan lain-lain.
M.A: Ya, saya terima.
Kemampuan manthiq (dialektika) A. Hassan membuat tokoh atheis itu tak mampu mengelak untuk menyatakan setuju dengan logika berpikir guru Persatuan Islam itu.
Cecaran pertanyaan yang sarat logika dan retorika terus dihujamkan pada si atheis…
* * *
A.H: Bila tuan tidak ber-Tuhan, tentulah tidak beragama. Dari itu semua, baik dan jahat tentunya tuan timbang dengan fikiran dan akal. Maka menurut fikiran, apakah Tuan merasa perlu ada keadilan dan keadilan itu perlu dibela hingga tidak tersia-sia?
M.A: Ya, perlu ada keadilan dan perlu dibela
A.H: Apakah tuan makan benda berjiwa?
M.A: Kalau binatang yang sedang berjiwa saya tidak makan
A.H: Saya tidak maksudkan binatang yang sedang hidup, tetapi daging binatang-binatang: Sapi dan kambing yang dijual dipasar.
M.A: Ya, saya makan
A.H: Itu berarti tidak adil, Tuan zalim
M.A: Mengapa Tuan berkata begitu?
A.H: Karena menyembelih binatang itu, menurut fikiran satu kesalahan dan kezaliman
M.A: Saya tidak bunuh binatang-binatang itu, tetapi penjualnya (yang membunuh, pen)
A.H : Kalau Tuan tidak makan dagingnya, tentu orang-orang tidak sembelih binatangnya. Jadi, Tuan adalah seorang dari yang menyebabkan binatang- binatang itu disembelih.
Baiklah kita teruskan. Apa Tuan berbuat (lakukan) kalau tuan digigit nyamuk?
M.A: Saya bunuh
A.H: Bukankah itu satu kezaliman?
M.A: Saya bunuh nyamuk itu lantaran ia gigit saya
A.H: Menurut keadilan fikiran, jika nyamuk gigit tuan, mestinya tuan balas gigit dia. Balas dengan membunuh itu tidak adil…
Tuan M.Ahsan tertawa dan hadirin bertepuk tangan mendengar logika A. Hassan yang mengunci lawan debatnya. Padahal dalam kesepakatan debat ini, tepuk tangan dan keriuhan dilarang.
Si atheis semakin terpojok. Ibarat bertinju, ia sudah sempoyongan di pinggir ring. A. Hassan terus mencecar dengan runtutan pertanyaan yang mengunci jawaban…
A.H: Marilah kita teruskan lagi. Bagaimana jika seorang yang Tuan kasih sayang sungguh-sungguh, dirampok dan dibunuh oleh seseorang?
M.A: Pembunuh itu dicari dan dibalas bunuh
A.H :Bagaimana membalasnya jika tidak tahu siapa yang membunuhnya?
M.A: Diserahkan kepada polisi
A.H: Bagaimana pula jika polisi pun tidak tahu siapa yang membunuhnya? Apakah urusan itu habis dengan begitu saja? Jika demikian, keadilan tidak terselenggara. Orang yang teraniaya, tidak terbela. Kezhaliman bisa merajalela. Buat pendirian ber-Tuhan, pembunuhan itu akan dibalas dengan siksaan yang sepantasnya di Hari Perhitungan, bahkan sekalian hukum di dunia yang tidak adil akan diadili hingga tidak ada kepincangan di neraca pengadilan.
* * *
A.H: Tuan ada menulis di “Suara Rakyat” tanggal 9 Agustus 1955 tentang seorang yang keluar buntutnya dan terus memanjang, lalu ia minta pada Rumah Sakit Malang supaya dipotong dan dihilangkan. Karena semakin panjang, semakin menyakitkan. Apakah (dengan tulisan itu) Tuan bermaksud dengan itu bahwa manusia berasal dari monyet?
M.A: Ya, betul
A.H: Apakah tuan menganggap bahwa buntut orang itu kalau tidak dibuang dan terus memanjang, niscaya dia jadi monyet?
M.A: Ya, betul begitu
A.H: Jika demikian berarti monyet berasal dari manusia, bukan manusia berasal dari monyet…
Tuan M.Ahsan tertawa, hadirin juga terbahak dan bertepuk tangan, lupa dengan peraturan majelis. Tuan vorzitter (pimpinan sidang) tak bisa berbuat banyak, mengingat hadirin yang ratusan jumlahnya begitu terpukau dengan gaya berdebat A. Hassan.
* * *
Demikianlah perdebatan sengit dan tegang yang berlangsung selama dua jam itu berakhir diselingi derai tawa dan tepuk tangan karena keahlian A. Hassan yang mampu mematahkan argumen dengan gaya yang santai, lucu, dan ilmiah. Perdebatan ini dikenang sepanjang massa sebagai debat terbaik A. Hassan dengan tokoh atheis tersebut.
Perdebatan ini sendiri berlangsung dua kali. Debat pertama berlangsung selama dua setengah jam, dan berakhir dengan pernyataan Ahsan menerima apa yang disampaikan oleh A. Hassan. Ia menyatakan menerima dan kembali pada Islam. Namun dalam pertemuan pertama, A. Hassan meminta Ahsan untuk berpikir dulu, sebelum menerima apa yang disampaikannya. Akhirnya pada pertemuan kedua yang berlangsung selama dua jam, Ahsan benar-benar menerima dalil-dalil dan argumentasi yang disampaikan A. Hassan. Tokoh atheis itu akhirnya kembali ke pangkuan Islam. Kisah perdebatan antara A. Hassan dengan tokoh atheis ini kemudian didokumentasikan dalam sebuah verslag atau buku oleh A. Hassan dengan judul, “Adakah Tuhan?”
Dalam buku tersebut, A. Hassan juga menjawab pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang-orang yang meragukan atau tidak percaya sama sekali dengan Tuhan. Pertanyaan tersebut adalah, “Apa arti Tuhan sediakan (membuat adanya) perintah dan larangan, surga dan neraka, apabila semua perbuatan Tuan terbitnya tidak lain melainkan dari Tuhan?”
A. Hassan menjawab pertanyaan itu dengan mengatakan, “Pertanyaan itu saya jawab, aqal saya dengan tetap memaksa saya percaya:
1. Bahwa diri saya dijadikan oleh Tuhan
2. Bahwa di dalam diri saya Tuhan ada jadikan satu kekuatan buat memilih jahat dan baik.
3. Bahwa sebelum dan sesudah menjadikannya, Tuhan tahu bahwa kekuatan itu akan memilih beberapa banyak kejahatan atau beberapa banyak kebaikan.
4. Bahwa kalau Tuhan mau, niscaya ia jadikan kekuatan itu memilih kebaikan saja.
5. Bahwa agama dan Rasul yang dikirim oleh Tuhan itu tidak kuat aqal saya mendustakannya dan saya percaya tidak ada siapapun yang sanggup membuktikan kedustaannya.
6. Bahwa di agama itu Tuhan ada wajibkan beberapa perkara, dan haramkan beberapa perkara, dan ada sediakan ganjaran untuk kebaikan dan kejahatan.”
A. Hassan kemudian melanjutkan jawabannya, “Dari itu, semua aqal saya mewajibkan saya beriman, bahwa saya dan sekalian amal baik dan amal jahat saya adalah dari kehendak Allah, tidak dari lain-Nya, karena tidak ada apapun yang bisa bergerak jika tidak dengan kehendak-Nya. Dan bersama itu, saya beriman pula bahwa Tuhan ada sediakan surga dan neraka, untuk jadi tempat pembalasan orang-orang yang beramal baik dan jahat, walaupun saya merasa bodoh, tidak mengerti, mengapa Tuhan yang berbuat (membuat) semua perbuatan saya, telah sediakan tempat balasan bagi perbuatan-Nya sendiri.”
Jawaban A. Hassan menyiratkan bahwa ada aspek keimanan yang akal mau tidak mau harus tunduk dan patuh, karena tidak mampu menyentuh aspek tersebut. Ia juga menyatakan, “Saya tidak malu jadi bodoh, mengaku bodoh, atau merasa bodoh di dalam urusan tersebut. Karena perkara yang saya tidak tahu di dunia ini sangat banyak.”
Dengan gaya berpikir yang manthiqi (logis), kakek dari Ghazie Abdul Qadir (pakar fikih) dan Prof. Zuhal Abdul Qadir (mantan Menteri Riset dan Teknologi era Presiden B.J Habibie) itu, kemudian memperinci hal-hal yang manusia banyak tidak tahu, tetapi untuk hal ini manusia memaklumi. Sedangkan untuk urusan keimanan yang kadang tidak tersentuh oleh akal, manusia, terutama orang-orang yang tidak percaya adanya Tuhan, tidak pernah memaklumi.
A. Hassan memperinci satu persatu hal-hal yang banyak orang tidak tahu dan tidak mengerti, tetapi bagi umat Islam itu masuk dalam wilayah keimanan yang akal harus tunduk dan patuh, bahwa semua itu ada yang menciptakan dan menggerakkan:
1. Saya tidak tahu apa dia sebenarnya (bagaimana bentuk, pen.) akal?
2. Sering saya hendak kerjakan satu kebaikan, tetapi dihalangi oleh satu kehendak lain dari diri saya sendiri, hingga saya tidak mengerti siapa “saya” itu?
3. Saya hairan (heran, pen.) di waktu saya merasa menang, maka di saat itu juga saya merasa kalah, karena saya menang pada menolak kejahatan yang hendak saya kerjakan, tetapi saya kalah pada menghasilkan kejahatan yang saya hendak kerjakan.
4. Saya tidak mengerti mengapa Tuhan adakan penyakit dan adakan pula obatnya pula, dan adakan racun dengan penawarnya?
5. Saya belum paham mengapa labu dan semangka yang licin Tuhan jadikan ia di bawah, sedang durian dan kelapa yang membahayakan ia buahkan di atas?”
Sekali lagi, demi meyakini semua itu adalah kehendak dan rahasia Allah, A. Hassan mengatakan ia tidak merasa malu dan mengaku bahwa dirinya bodoh dalam hal ini. Ia harus tetap memaksa akalnya untuk tunduk dan percaya. Inilah aspek keimanan, yang tidak bisa diraba oleh akal. Rasulullah SAW bersabda,”Tidak beriman seseorang, sampai hawa nafsunya (akalnya) tundak mengikuti terhdap apa yang aku bawa.” (Al-Hadits)
Tuan dan Puan sekalian, demikianlah kisah dari perdebatan Allahyarham Ustadz A. Hassan. Guru kita mengingatkan, “Tidak boleh kita adakan pertanyaan terhadap Tuhan, atau terhadap lainnya, yang jawabannya akan jatuh pada mustahil atau membawa kepada kemustahilan.”
Kini, tradisi meluruskan kekeliruan dan kesesatan dengan cara mengajak bertukar pikiran dalam debat terbuka harus kembali digalakkan. Tujuannya, agar umat bisa tahu, mana yang keliru dan mana yang benar. Mana yang haq dan mana yang batil. Yang terpenting, jangan jadikan debat sebagai ajang untuk menghina dan mencaci maki lawan. Bukan pula ajang untuk pamer otot dan kekerasan. Karena bisa jadi, dalam perdebatan itu ada pintu hidayah bagi mereka yang tersesat dan menyimpang. “Saya sudah terima pendirian adanya Tuhan, dan puas…” begitu kata si atheis, di akhir perdebatan. (Artawijaya)
Disadur dari Fanspage: Cahaya Islam_Menebar Rahmat
0 Komentar di Blogger







